10.1.15

Begitu Kerasnya Kehidupan

Lelaki itu ia berjalan menyusuri trotoar kota dengan pandangan selalu kedepan. Tidak tahu apa yang membuatnya tertarik di depan sana, yang jelas begini penggambarannya. Di depan sana gedung gedung pencakar langit sedang berdiri kokoh menjulang. Jembatan-jembatan gantung meliuk-liuk megah dengan serentetan mobil menaikinya. Pohon-pohon sudah tidak lagi merindangkan jalanan. Entah kemana perginya, mungkin pohon-pohon itu sudah muak dengan pemandangan ini dan memilih berserah diri kepada Tuhan. Kabut menyelubungi semuanya. Ini Bukan lagi kabut yang segar seperti pagi hari melainkan kabut-kabut yang berasal dari knalpot knalpot mesin pemalas.

Lelaki ini masih berjalan. Sekarang ia menatap dengan tatapan kosong penuh iba. Di hadapannya beratus ratus orang sedang berlomba-lomba mempertahankan kedudukannya sehingga tidak memperdulikan tubuhnya. Berangkat mulai pukul 6 pagi dan selesai pukul 9 malam. Terus menerus setiap hari tanpa mengenal kata cukup. Orang-orang ini berlomba-lomba pula mengepul harta yang menurut mereka sangat berpengaruh dalam kelangsungan hidupnya. Namun, apakah mereka tidak pernah berpikir dan merasakan bahwa mereka sedang di hiptonis sehingga berperilaku seperti robot. Robot-robot yang tidak mengenal kata belas kasihan, robot-robot yang hanya mengenal kata ON dan OFF.

Sungguh malang nasib mereka. Terobsesi mempunyai kehidupan yang layak tapi mengorbankan hal yang selayaknya mereka dapat. Berpegangan pada jabatan dan harta tetapi tidak pada kebahagiaan. Ketika harta dan jabatan sudah mereka dapatkan. Tentunya, gaya hidup mempengaruhi mereka. Orang yang sudah tinggi pasti di segala bidang kehidupannya mereka juga ingin memperoleh sesuatu yang tinggi pula. Hal itu mengakibatkan perilaku konsumtif dan hedonisme. Bagaimana mungkin mereka bisa bahagia jika selalu merasa hidup itu seperti ajang kompetisi. Selalu berloma-lomba untuk menjadi nomor 1.

Lalu, lelaki itu memegang dada lalu mengusapnya. Sungguh malang nasib robot-robot manusia ini yang munafik terhadap hingar bingar kehidupan. Batinnya.

No comments:

Post a Comment

thanks for comments :)